Pentingnya Kerja Sama Orang Tua dan Sekolah dalam Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam

4 10 2009

PENTINGNYA KERJA SAMA ORANG TUA DAN SEKOLAH DALAM PELAKSANAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

OlehIlhamnorrahman, S.Pd.I.

1. Kewajiban Orang Tua Terhadap Pendidikan Agama Anak
Setiap anak pada hakikatnya dilahirkan dalam keadaan fitrah, dengan kata lain bahwa ia mempunyai modal dasar yang suci dalam dirinya. Untuk itu perlu diarahkan dan dikembangkan agar mencapai kesempurnaan akhlak dan budi pekertinya. Dalam hal ini Nabi bersabda :
كُلُّ مَوْلُدٍ يُوْلَدُ عَلى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَنِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ اَوْ يُمَجِّسَانِهِ. (رواه البخارى)
Dari hadits tersebut di atas dapat dipahami bahwa anak menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi atau bahkan tidak memiliki moral, semua tergantung dari orang tuanya, sebabnya ialah karena perkembangan fitrah manusia itu banyak tergantung kepada usaha pendidikan dalam bimbingan dan tanggung jawab orang tua. Maka apabila ada anak yang tidak mendapatkan kesempatan sebaik-baiknya yang mendukung perkembangan hidup keagamaannya, maka dia akan hidup menyimpang dari jalan Islam. Kemampuan dasar beragama yang sesuai dengan fitrah pada setiap individu tidak akan berkembang bilamana tidak mendapat bimbingan yang baik dan benar.
Jadi sangat jelas bahwa orang tua memiliki tanggung jawab yang besar dalam memberikan pendidikan agama bagi anak-anaknya. Sebab orang tualah yang memiliki kewajiban atas pemeliharaan dan pendidikan anak-anaknya. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah dalam Surah At Tahrim ayat 6 :
يآيَّهَاالَّذِيْنَ امَنُوْا قُوْا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلئِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لَّايَعْصُوْنَ اللهَ مااَمَرَهُمْ وَيَفْعَلوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ.
Orang tua adalah orang pertama dan utama yang wajib bertanggung jawab atas pemeliharaan dan pendidikan, terutama pendidikan agama anak-anaknya. Tanggung jawab pertama karena dalam keluarga inilah anak-anak pertama kali menyandarkan hidup dan membutuhkan sentuhan kasih sayang pertama, mendapatkan bimbingan, pengajaran dan pendidikan dari orang tuanya. Sebagai tanggung jawab terutama, karena sebagian besar kehidupan anak adalah di dalam keluarga, sehingga pendidikan dan bimbingan yang paling banyak diterima oleh anak adalah dari kedua orang tuanya. M. Sobry Sutikno mengemukakan bahwa:
Memberikan pendidikan agama sedini mungkin menjadi faktor utama pembentukan karakter dan jiwa anak. Dengan agama akan tercapai keseimbangan lahir dan batin. Pendidikan agama harus di tanamkan sejak kanak-kanak dengan membiasakan anak bertingkah laku dan berakhlak sesuai ajaran agama. Pendidikan agama ini mempunyai dua aspek penting: Pendidikan agama bertujuan menumbuhkan jiwa atau pribadi yang syarat dengan muatan peraturan yang baik sesuai dengan ajaran agama, Pendidikan agama merupakan pemenuhan aspek kognitif dari anak.

Senada dengan hal tersebut, Emi Nur Hayati Ma’sum Sa’id juga mengemukakan bahwa:
Kedua orang tua harus memenuhi hak-hak anak dalam pendidikan agama. Agama dan akal menghukumi bahwa kedua orang tua bertanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya. Kedua orang tua harus berusaha mendidik anaknya berdasarkan program yang baik sehingga mereka tidak tersesat dan menjadi orang yang baik serta berguna bagi agamanya. Untuk sampai pada tujuan ini orang tua memiliki tugas berat yang ada di pundaknya. Langkah pertama yang harus dijalankan oleh kedua orang tua adalah menjaga kesehatan dan kebersihan jasmani anak-anak, kemudian baru mendidik mereka mengenai prinsip-prinsip moral dan akhlak. Kedua orang tua hendaknya mendidik anaknya sehingga mereka dalam segala perilakunya berasaskan ajaran agama dan keimanan kepada Allah yang Esa.

Kemudian Musleh Hery memberikan gambaran tentang peran pendidikan agama bagi kehidupan anak, sebagai berikut:
Pendidikan agama berkisar antara dua dimensi hidup, yaitu penanaman rasa takwa kepada Allah dan pengembangan rasa kemanusiaan kepada sesama. Penanaman rasa takwa kepada Allah sebagai dimensi hidup dimulai dengan pelaksanaan kewajiban-kewajiban formal agama yang berupa ibadah-ibadah. Sedangkan pelaksanaannya harus disertai dengan penghayatan yang sedalam-dalamnya akan makna ibadah-ibadah tersebut, sehingga ibadah-ibadah itu tidak dikerjakan semata-mata sebagai ritual belaka, melainkan dengan keinsafan mendalam akan fungsi edukatifnya.

Berdasarkan pendapat tersebut, bahwa pendidikan agama kepada anak pada dasarnya adalah penanaman rasa takwa kepada Allah SWT. Itu dilakukan melalui pembiasaan anak dalam melaksanakan ibadah dengan penghayatan dan kesadarannya. Semua itu tentunya tidak akan berjalan dengan sendirinya, jika orang tua tidak memiliki perhatian serius dalam memberikan pendidikan agama bagi anak-anaknya.
2. Peranan Sekolah Terhadap Pendidikan Agama Anak
Sekolah adalah pendidikan formal, secara teratur dan terencana melakukan pembinaan terhadap generasi muda. Oleh karena itu, peran sekolah juga sangat penting dalam melaksanakan pendidikan terhadap anak. Dalam hal ini Amir Daien Indrakusuma dalam buku Pengantar Ilmu Pendidikan mengatakan :
Tidak semua tugas mendidik dapat dilaksanakan oleh orang tua dalam keluarga terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan berbagai macam keterampilan. Oleh karena itu anak dikirimkan ke sekolah. Dengan demikian, sebenarnya pendidikan di sekolah adalah bagian dari pendidikan dalam keluarga yang sekaligus juga merupakan lanjutan dari pendidikan dalam keluarga, sehingga di sekolah adalah merupakan jembatan bagi anak, yang menghubungkan kehidupan dalam keluarga dengan kehidupan dalam masyarakat kelak.

Dalam hal pendidikan agama Islam peran sekolah juga penting, khususnya guru agama yang memberikan pendidikan agama kepada mereka. Secara umum guru agama berperan menumbuhkan mentalitas beragama pada anak didiknya, dan secara khusus memberikan pelajaran agama sesuai dengan bidang studi yang diajarkan.
Selain itu, guru agama juga perlu menjalin kerja sama dengan pihak orang tua murid, sehingga permasalahan yang mereka hadapi dapat diatasi secara bersama pula. Hal ini jauh lebih baik dari pada guru atau orang tua bekerja sendiri-sendiri dalam mendidik anak.
Kaitannya dengan pendidikan agama terhadap anak, fungsi guru antara lain :
a. Guru adalah sebagai pembantu orang tua dalam mendidik anaknya. Untuk itu guru harus tidak segan-segan berhubungan dengan orang tua/walinya, sebab diakui bahwa orang tuanyalah yang paling mengetahui keadaan hidup kejiwaan anak. Di samping itu juga orang tua dan keluarga pengaruhnya lebih besar pada anak dalam pertumbuhan psikis, karena kecuali anak lebih lama tinggal di dalamnya, juga dari segi psikologi mereka tertarik pada tingkah laku orang tua serta keluarganya.
b. Guru sebagaimana orang tua berkewajiban membantu perkembangan kodrat anak ke arah kemampuan hidup bermasyarakat, kemandirian dan bermoral tinggi.
c. Di samping itu guru juga sebagai seorang yang berilmu pengetahuan dan dengan pengetahuannya itu ia mengajar anak didik agar menjadi orang yang berilmu. Khusus bagi guru-guru agama, di samping ia harus menguasai ilmu agama juga perlu memiliki ilmu pengetahuan umum.
Agar anak didik sadar dan taat beragama, tentu peranan guru agama sangat penting. Karena dalam kegiatan belajar mengajar agama yang dilakukannya banyak pengaruhnya terhadap anak didik. Untuk itu guru agama perlu terus meningkatkan kemampuan profesionalnya sebagai guru agama, sehingga pelajaran yang ia berikan dapat menarik bagi anak dan dapat pula menanamkan nilai-nilai keagamaan dalam diri anak didiknya.
3. Hubungan Orang Tua dan Sekolah dalam Pendidikan Agama
Bertitik tolak dari hak dan tanggung jawab pendidikan agama, baik orang tua maupun guru agama, keduanya sama-sama mempunyai kewajiban dalam mendidik anak. Orang tua berfungsi sebagai pendidik dalam keluarga dan guru yang bertanggung jawab di lembaga formal, yaitu sekolah. Namun pada hakikatnya keduanya mempunyai tujuan yang sama, yaitu membimbing anak ke arah kedewasaan dengan menanamkan nilai-nilai agama, agar nanti setelah dewasa anak mampu mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam, sehingga tercipta kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat kelak.
Berdasarkan hal tersebut, diperlukan hubungan dan kerja sama yang baik antara orang tua dan guru, terutama dalam pendidikan agama. Dalam hal ini Didin Hafidhuddin dalam buku Membentuk Pribadi Qurani, mengatakan, “Tentu sangat ideal apabila lingkungan pendidikan pertama (keluarga) mampu bekerja sama secara harmonis dengan lingkungan pendidikan kedua, yakni sekolah. Kerja sama antara orang tua dan para guru di sekolah merupakan suatu keniscayaan.”
Kerja sama antara orang tua dan sekolah sangatlah penting. Sebab dengan adanya kerja sama tersebut, tujuan pendidikan anak dapat direalisasikan. Hery Noer Aly dan Munzier S. Menyatakan:
Pengajaran apapun yang diberikan kepada anak di sekolah tidak mungkin dapat merealisasikan tujuan apabila tidak ada suasana saling menolong, melengkapi, dan koordinasi antara keluarga dan sekolah. Agar pengaruh pengajaran yang diterima anak di sekolah terus berkesinambungan, dan sesudah itu tingkah laku anak berubah ke arah yang benar, para orang tua hendaknya bekerja sama dengan sekolah untuk mencapai tujuan. Sekolah tanpa bantuan keluarga tidak akan mampu merealisasikan tujuan pendidikan yang diharapkan.

Dari kerja sama tersebut, orang tua akan dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman dari guru dalam hal mendidik anak-anak mereka. Sebaliknya, para guru pun dapat pula meminta keterangan-keterangan dari orang tua tentang pendidikan dan sifat-sifat anak. Keterangan itu sangat penting bagi guru dalam menerapkan pendidikan di sekolah.





UNDA

1 10 2009

Abang Ilham





KEAKTIFAN BELAJAR SISWA

29 09 2009

MENGEMBANGKAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWAPasPhotu ku

Oleh: Ilhamnorrahman, S.Pd.I.

Pentingnya Upaya Guru dalam Mengembangkan Keaktifan Belajar Siswa

Guru merupakan penanggung jawab kegiatan proses pembelajaran di dalam kelas. Sebab gurulah yang langsung memberikan kemungkinan bagi para siswa belajar dengan efektif melalui pembelajaran yang dikelolanya. Dalam konteks ini Nana Sudjana yang dikutip Cece Wijaya dan A. Tabrani mengemukakan sebagai berikut:
Kehadiran guru dalam proses belajar mengajar atau pengajaran masih tetap memegang peranan penting. Peranan guru dalam proses pengajaran belum dapat digantikan oleh mesin, radio, tape recorder ataupun komputer yang paling modern sekalipun. Masih terlalu banyak unsur manusiawi seperti sikap, sistem nilai, perasaan, motivasi kebiasaan dan lain-lain yang merupakan hasil dari proses pengajaran, tidak dapat dicapai melalui alat-alat tersebut.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa guru memegang peranan penting terhadap proses belajar siswa melalui pembelajaran yang dikelolanya. Untuk itu guru perlu menciptakan kondisi yang memungkinkan terjadinya proses interaksi yang baik dengan siswa, agar mereka dapat melakukan berbagai aktivitas belajar dengan efektif.
Dalam menciptakan interaksi yang baik diperlukan profesionalisme dan tanggung jawab yang tinggi dari guru dalam usaha untuk membangkitkan serta mengembangkan keaktifan belajar siswa. Sebab segala keaktifan siswa dalam belajar sangat menentukan bagi keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasatya mengemukakan bahwa “proses belajar yang bermakna adalah proses belajar yang melibatkan berbagai aktivitas para siswa. Untuk itu guru harus berupaya untuk mengaktifkan kegiatan belajar mengajar tersebut.”
Selanjutnya tingkat keaktifan belajar siswa dalam suatu proses pembelajaran juga merupakan tolak ukur dari kualitas pembelajaran itu sendiri. Mengenai hal ini E. Mulyasa mengatakan bahwa:
Pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran, di samping menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi, semangat belajar yang besar, dan rasa percaya pada diri sendiri.

Agar siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran, maka diperlukan berbagai upaya dari guru untuk dapat membangkitkan keaktifan mereka. Sehubungan dengan pentingnya upaya guru dalam membangkitkan keaktifan siswa dalam belajar, R. Ibrahim dan Nana Syaodih mengemukakan bahwa:
Mengajar merupakan upaya yang dilakukan oleh guru agar siswa belajar. Dalam pengajaran siswalah yang menjadi subjek, dialah pelaku kegiatan belajar. Agar siswa berperan sebagai pelaku dalam kegiatan belajar, maka hendaknya guru merencanakan pengajaran, yang menuntut siswa banyak melakukan aktivitas belajar. Hal ini tidak berarti siswa dibebani banyak tugas. Aktivitas atau tugas-tugas yang dikerjakan siswa hendaknya menarik minat siswa, dibutuhkan dalam perkembangannya, serta bermanfaat bagi masa depannya.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka dalam pembelajaran upaya guru dalam mengembangkan keaktifan belajar siswa sangatlah penting. Sebab keaktifan belajar siswa menjadi penentu bagi keberhasilan pembelajaran yang dilaksanakan.

Bentuk Upaya Guru dalam Mengembangkan Keaktifan Belajar Siswa

Mengajar merupakan upaya yang dilakukan oleh guru agar siswa belajar. Dalam pembelajaran, siswalah yang menjadi subjek, jadi siswalah yang menjadi pelaku kegiatan belajar. Demikian pula dalam pembelajaran, agar siswa berperan sebagai pelaku dalam kegiatan belajar, maka guru hendaknya mengondisikan pembelajaran yang menuntut siswa aktif dalam melakukan kegiatan belajar.
Beberapa bentuk upaya yang dapat dilakukan guru dalam mengembangkan keaktifan belajar siswa dalam mata pelajaran adalah di antaranya dengan meningkatkan minat siswa, membangkitkan motivasi siswa, menerapkan prinsip individualitas siswa, serta menggunakan media dalam pembelajaran.
1. Meningkatkan minat siswa
Kondisi pembelajaran yang efektif adalah dengan adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar. Minat sangat besar pengaruhnya terhadap belajar sebab dengan minat seseorang akan melakukan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya, tanpa adanya minat seseorang tidak mungkin akan melakukan sesuatu. Siswa yang memiliki minat yang besar terhadap suatu pelajaran akan lebih aktif untuk mempelajarinya dan sebaliknya, siswa akan kurang keaktifannya dalam mempelajari pelajaran yang kurang diminatinya. Oleh karena itu, William Jams, seperti di kemukakan Moh. Uzer Usman, yang melihat bahwa minat siswa merupakan faktor utama yang menentukan derajat keaktifan belajar siswa. jadi, minat merupakan faktor yang menentukan keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar.
Selanjutnya minat siswa juga berhubungan dengan perhatian siswa. Perbedaannya adalah minat sifatnya lebih menetap sedangkan perhatian sifatnya lebih sementara dan adakalanya menghilang. Dalam proses belajar siswa, perhatian memegang peranan penting. Thomas M. Risk yang dikutip Zakiah Daradjat mengemukakan “no learning takes place without attention.” Dari pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa suatu pelajaran tidak akan berlangsung tanpa adanya perhatian dari siswa.
Dengan demikian proses pembelajaran akan berjalan lancar bila siswa memiliki minat yang besar yang menimbulkan perhatiannya dalam belajar. Oleh karena itu, guru perlu membangkitkan minat siswa-siswanya agar pelajaran yang diberikan mudah dipahami sehingga mereka terlibat aktif dalam pembelajaran. Dalam hal ini R. Ibrahim dan Nana Syaodih mengemukakan beberapa upaya menarik minat siswa dalam belajar, yaitu sebagai berikut:
Pengajaran perlu memperhatikan minat dan kebutuhan siswa, sebab keduanya akan menjadi penyebab timbulnya perhatian. Sesuatu yang menarik minat dan dibutuhkan siswa, akan menarik perhatiannya, dengan demikian mereka akan bersungguh-sungguh dalam belajar. Misalnya, anak-anak Sekolah Dasar sangat menyenangi cerita (dongeng). Sampai dengan kelas III mereka menyenangi cerita fantasi sedangkan anak-anak kelas IV sampai dengan kelas VI menyenangi cerita-cerita yang lebih konkret, kepahlawanan dan sebagainya. Guru dapat memanfaatkan minat dan kebutuhan ini dengan memberikan cerita-cerita yang berisi penanaman atau pengembangan nilai-nilai moral.

Sementara Syaiful Bahri Djamarah juga mengemukakan upaya-upaya yang dapat dilakukan guru untuk membangkitkan minat siswa dalam belajar, yaitu:
a. Membangkitkan adanya suatu kebutuhan.
b. Menghubungkan dengan persoalan pengalaman yang lampau.
c. Memberi kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik.
d. Menggunakan berbagai macam bentuk mengajar.

Kemudian Zakiah Daradjat dengan redaksi yang tidak jauh berbeda, menyebutkan beberapa usaha yang dapat dilakukan guru untuk membangkitkan minat siswa dalam belajar, yaitu:
a. Membangkitkan kebutuhan pada diri anak seperti kebutuhan rohani, jasmani, sosial, dan sebagainya. Rasa kebutuhan ini akan menimbulkan keadaan labil, ketidakpuasan yang memerlukan pemuasan.
b. Pengalaman-pengalaman yang ingin ditanamkan kepada anak hendaknya didasari oleh pengalaman-pengalaman yang sudah dimiliki.
c. Beri kesempatan berpartisipasi untuk mencapai hasil yang diinginkan. Tugas-tugas harus disesuaikan dengan kesanggupan murid. Anak yang tidak pernah mencapai hasil yang baik atau tidak pernah mendapat penyelesaian tugas-tugasnya dengan baik, merasa putus asa.
d. Menggunakan alat-media dan berbagai metode mengajar.

Beberapa hal tersebut di atas menunjukkan bahwa upaya guru dalam mengembangkan minat belajar siswa sangat penting dilakukan agar ia dapat terlibat aktif dalam mengikuti pembelajaran.
2. Membangkitkan motivasi siswa
Setiap perbuatan individu, termasuk perbuatan belajar didorong oleh sesuatu atau beberapa motif. Motif merupakan suatu tenaga yang berada pada diri siswa yang mendorongnya untuk berbuat mencapai suatu tujuan. Sedangkan motivasi menurut Muh. Uzer Usman adalah “suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk membuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.”
Seseorang siswa yang belajar dengan motivasi kuat, akan melaksanakan semua kegiatan belajarnya dengan sungguh-sungguh penuh, gairah atau semangat. Sebaliknya, belajar dengan motivasi yang lemah, akan malas bahkan tidak mau mengerjakan tugas-tugas yang berhubungan dengan pelajaran. Dengan demikian jelaslah bahwa motivasi sangat diperlukan seseorang dalam melakukan aktivitas belajar.
Tugas guru adalah membangkitkan motivasi siswa sehingga ia mau belajar secara aktif. Motivasi belajar siswa dapat timbul dari dalam individu siswa dan dapat pula timbul akibat pengaruh dari luar dirinya. Motivasi yang timbul dari dalam diri siswa sendiri tanpa ada ajakan atau pengeruh dari orang lain disebut motivasi intrinsik. Sedangkan motivasi yang timbul akibat pengeruh dari luar diri siswa, apakah karena adanya ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain disebut motivasi ekstrinsik. Dalam konteks motivasi belajar ini, Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain mengemukakan sebagai berikut:
Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru, karena di dalam diri siswa tersebut sudah ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadarannya sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada di sekitarnya kurang dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya.
Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini peranan guru lebih dituntut untuk memerankan fungsi motivasi, yaitu fungsi motivasi sebagai alat yang mendorong manusia untuk berbuat, motivasi sebagai alat yang menentukan arah perbuatan, dan motivasi sebagai alat untuk menyeleksi perbuatan.

Dari hal tersebut jelas bahwa dalam belajar, siswa mesti memiliki motivasi belajar yang tinggi, baik yang berasal dari dalam diri maupun dari luar diri siswa. Beberapa upaya yang dapat dilakukan guru untuk membangkitkan motivasi siswa dan menjadikannya aktif dalam mengikuti pembelajaran, seperti yang dikemukan R. Ibrahim dan Nana Sayodih diantaranya, yaitu:
a. Memberikan sasaran antara. Sasaran akhir belajar adalah lulus ujian atau naik kelas. Sasaran akhir baru dicapai pada akhir tahun. Untuk membangkitkan motif belajar maka diadakan sasaran antara, seperti ujian semester, tengah semester, ulangan harian, kuis, dan sebagainya.
b. Diciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Suasana belajar yang hangat berisi suasana persahabatan, ada rasa humor, ada pengakuan akan keberadaan siswa, terhindar dari celaan dan makian, dapat membangkitkan motif.
c. Adanya persaingan sehat. Persaingan atau kompetisi yang sehat dapat membangkitkan motivasi belajar. Siswa dapat bersaing dengan hasil belajarnya sendiri atau dengan hasil yang dicapai oleh orang lain. Dalam persaingan ini dapat diberikan pujian, ganjaran ataupun hadiah.

Sementara itu Moh. Uzer Usman juga memberikan beberapa cara untuk membangkitkan motivasi ekstrinsik dalam menumbuhkan motivasi intrinsik siswa dalam belajar, yaitu:
• Kompetisi (persaingan): Guru berusaha menciptakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya dan mengatasi prestasi orang lain.
• Pace making (membuat tujuan sementara atau dekat): Pada awal kegiatan belajar mengajar, guru hendaknya terlebih dahulu menyampaikan kepada siswa TIK yang akan dicapainya sehingga dengan demikian siswa berusaha untuk mencapai TIK tersebut.
• Tujuan yang jelas: Motif mendorong individu untuk mencapai tujuan. Makin jelas tujuan, maka besar nilai tujuan bagi individu yang bersangkutan dan makin besar pula motivasi dalam melakukan suatu perbuatan.
• Kesempurnaan untuk sukses: Kesuksesan dapat menimbulkan rasa puas, kesenangan dan kepercayaan terhadap diri sendiri, sedangkan kegagalan akan membawa efek yang sebaliknya. Dengan demikian, guru hendaknya mampu memberi kesempatan kepada anak untuk meraih sukses dengan usaha sendiri, tentu saja dengan bimbingan guru.
• Minat yang besar: motif akan timbul jika individu memiliki minat yang besar.
• Mengadakan penilaian atau tes: Pada umumnya para siswa mau belajar dengan memperoleh nilai yang baik. Hal ini terbukti dari kenyataan bahwa banyak siswa yang tidak belajar bila tidak ada ulangan. Akan tetapi, bila guru mengatakan bahwa lusa akan diadakan ulangan lisan, barulah siswa giat belajar dengan menghafal agar ia mendapat nilai yang baik. Jadi, angka atau nilai itu merupakan motivasi yang kuat bagi siswa.

Sementara Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain dalam buku Strategi Belajar Mengajar mengemukakan enam cara yang dapat dilakukan oleh guru dalam upaya membangkitkan motivasi dan gairah belajar siswa, yaitu:
• Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar;
• Menjelaskan secara konkret kepada anak didik apa yang dapat dilakukan pada akhir pengajaran;
• Memberikan ganjaran terhadap prestasi yang dicapai anak didik sehingga dapat merangsang untuk mendapat prestasi yang lebih baik di kemudian hari;
• Membentuk kebiasaan yang baik;
• Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok;
• Menggunakan metode yang bervariasi.

Sedangkan M. Sobry Sutikno juga mengemukakan beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:
a. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik.
Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siswa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.
b. Hadiah
Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
c. Saingan/kompetisi
Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
d. Pujian
Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.
e. Hukuman
Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.
f. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar
Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.
g. Membentuk kebiasaan belajar yang baik
h. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok
i. Menggunakan metode yang bervariasi, dan
j. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Dari beberapa cara yang telah di kemukakan para ahli di atas pada dasarnya saling melengkapi yang dapat dilakukan oleh guru dalam membangkitkan motivasi belajar siswa.
3. Menerapkan prinsip individualitas
Salah satu masalah utama dalam pembelajaran ialah masalah perbedaan individual. Seorang guru yang menghadapi 40 orang siswa di kelas, sebenarnya bukan hanya menghadapi ciri-ciri satu kelas, tetapi juga menghadapi 40 perangkat ciri-ciri siswa. Tiap orang siswa memiliki pembawaan-pembawaan yang berbeda, dan menerima pengaruh dan perlakukan dari keluarganya yang masing-masing juga berbeda. Dengan demikian adalah wajar apabila setiap siswa memiliki ciri-ciri individu sendiri. Ada siswa yang badannya tinggi kurus, atau pendek gemuk, cekatan atau lambat, kecerdasan tinggi, sedang atau rendah, berbakat dalam beberapa mata pelajaran, tetapi kurang berbakat dalam mata pelajaran tertentu, tabah, ulet atau mudah putus asa, periang atau perenung, bersemangat atau acuh tak acuh, dan sebagainya.
Berdasarkan hal tersebut, pemahaman guru terhadap setiap individu siswa sangat penting dalam upaya mengembangkan keaktifan belajar mereka. Dalam konteks ini Saiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain mengemukakan sebagai berikut:
Guru harus melakukan pendekatan dalam strategi belajar mengajarnya. Bila tidak, maka strategi belajar tuntas atau masteyr learning yang menuntut penguasaan penuh kepada anak didik tidak akan pernah menjadi kenyataan. Paling tidak dengan pendekatan individual dapat diharapkan kepada anak didik dengan tingkat penguasaan optimal.

Sementara Bloom yang dikutip oleh Moh. Uzer Usman menyatakan bahwa:
Jika guru memahami persyaratan kognitif dan ciri-ciri sikap yang diperlukan untuk belajar seperti minat dan konsep diri pada diri siswa-siswanya, dapat diharapkan sebagian besar siswa akan dapat mencapai taraf penguasaan sampai 75% dari yang diajarkan. Oleh sebab itu, hendaknya guru mampu menyesuaikan proses belajar mengajar dengan kebutuhan-kebutuhan siswa secara individual tanpa harus mengajar secara individual.

Perbedaan-perbedaan individu siswa dalam aktivitas belajarnya, seperti yang dikemukakan Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasatya, terbagi dalam empat hal, yaitu “1) Waktu dan irama perkembangan, 2) Motif, intelegensi dan emosi, 3) Kecepatan belajar atau menangkap pelajaran, 4) Pembawaan dan lingkungan.” Perbedaan-perbedaan ini menyebabkan hasil belajar siswa berbeda-beda dan waktu yang diperlukan untuk memahami pelajaran yang ditentukan akan berbeda pula. Tidak terkecuali dalam pelajaran, perbedaan-perbedaan tersebut juga sangat mempengaruhi aktivitas siswa dalam belajar .
Mengingat adanya perbedaan-perbedaan tersebut, guru harus mengerti tentang adanya keragaman adanya ciri-ciri siswa, baik di dalam menyiapkan dan menyajikan pelajaran maupun dalam memberikan tugas-tugas dan pembimbingan. Dalam konteks ini R. Ibrahim dan Nana Syaodih mengemukakan beberapa prinsip individualitas yang dapat diterapkan guru dalam mengelola pembelajaran, yaitu sebagai berikut::
a. Dalam mengajar hendaknya guru menggunakan metode atau strategi belajar mengajar yang bervariasi. Sebab dengan variasi tersebut diharapkan beberapa perbedaan kemampuan anak dapat terlayani.
b. Hendaknya digunakan alat dan media pengajaran. Penggunaan media dan alat-alat pengajaran dapat membantu siswa-siswa yang mempunyai kelemahan-kelemahan tertentu. Anak yang kemampuan berpikir abstraknya kurang, dapat dibantu dengan media yang konkret, anak yang pendengarannya kurang, dapat dibantu dengan penglihatan.
c. Hendaknya guru memberikan bahan pelajaran tambahan kepada anak-anak yang pandai, untuk mengimbangi kepandaiannya. Bahan tambahan tersebut dapat berupa bahan bacaan, soal-soal yang harus dipecahkan dan sebagainya.
d. Hendaknya guru memberikan bantuan atau bimbingan khusus kepada anak-anak yang kurang pandai atau lambat dalam belajar. Bantuan atau bimbingan dapat diberikan pada jam pelajaran ataupun di luar jam pelajaran.
e. Pemberian tugas-tugas hendaknya disesuaikan dengan minat dan kemampuan anak. Misalnya anak-anak yang lebih pandai diberi tugas yang lebih banyak atau lebih sukar. Anak yang berminat akan matematika diberi tugas di bidang matematika lebih banyak sedang yang lain di bidang sosial dan IPA lebih banyak.

Sementara Gafar Daud dalam sebuah artikel berjudul Hakikat Belajar, mengemukakan beberapa upaya melayani perbedaan individual siswa, yaitu sebagai berikut:
a. Anak-anak yang tergolong cerdas akan berkembang sesuai dengan kemampuannya, dengan cara ; akselerasi dan program tambahan.
b. Pengajaran individual.
c. Penyelenggaraan kelas khusus bagi siswa yang cerdas.
d. Bagi siswa yang lamban dapat diselenggarakan kelas remedial.
e. Pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan.
f. Pembentukan kelompok informal oleh siswa sendiri.

Berdasarkan beberapa hal yang telah di kemukakan di atas, maka sangat penting bagi guru untuk melayani perbedaan-perbedaan siswa sehingga memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing siswa secara optimal dalam pembelajaran.
4. Menggunakan media dalam pembelajaran.
Media pembelajaran adalah “segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.” Media pembelajaran sebagai perantara sumber pesan dengan penerima pesan yang berperan penting dalam proses pembelajaran.
Dalam upaya untuk mengembangkan keaktifan belajar siswa dalam mata pelajaran , hendaknya guru dapat menggunakan media dalam pembelajaran , di samping untuk memperjelas materi yang disampaikan juga akan dapat menarik minat siswa. Mengenai media ini Moh. Uzer Usman menyatakan:
Media pengajaran, teaching air, atau audiovisual aids (AVA) adalah alat yang digunakan guru ketika mengajar untuk membantu memperjelas materi pelajaran yang disampaikannya kepada dan mencegah terjadinya verbalisme pada diri siswa. Pengajaran yang menggunakan banyak verbalisme tentu akan segera membosankan, sebaliknya pengajaran akan lebih menarik bila siswa gembira belajar atau senang karena mereka merasa tertarik dan mengerti pelajaran yang diterimanya.

Media pembelajaran memiliki arti yang cukup penting dalam kegiatan pembelajaran . Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan materi yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Kerumitan bahan pelajaran yang disampaikan kepada siswa dapat disederhanakan dengan bantuan media. Dengan demikian siswa akan lebih mudah menerima bahan pelajaran dari pada tanpa penggunaan media.
Nilai dan manfaat media pembelajaran sebagai berikut:
a. Meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berpikir. Oleh karena itu mengurangi verbalisme (tahu istilah tetapi tidak tahu arti, tahu nama tetapi tidak tahu bendanya.
b. Memperbesar perhatian siswa.
c. Membuat pelajaran lebih menetap tidak mudah dilupakan.
d. Memberikan pengalaman yang nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan para siswa.
e. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinu.
f. Membantu tumbuhnya pengertian dan membantu perkembangan berbahasa.
g. Sangat menarik minat siswa dalam belajar.
h. Mendorong anak untuk bertanya dan berdiskusi karena ia ingin dengan banyak perkataan, tetapi dengan memperlihatkan suatu gambar, benda yang sebenarnya, atau alat lain.

Sementara Nana Sudjana dalam Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, mengemukakan manfaat dan nilai-nilai praktis penggunaan media pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
1) Dengan media dapat meletakkan dasar-dasar yang nyata untuk berpikir. Karena itu, dapat mengurangi verbalisme.
2) Dengan media dapat memperbesar minat dan perhatian siswa untuk belajar.
3) Dengan media dapat meletakkan dasar untuk perkembangan belajar sehingga hasil belajar bertambah mantap.
4) Memberikan pengalaman yang nyata dan dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri pada setiap siswa.
5) Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkesinambungan.
6) Membantu tumbuhnya pemikiran dan membantu berkembangnya kemampuan berbahasa.
7) Memberikan pengalaman yang tak mudah diperoleh dengan cara lain serta membantu berkembangnya efisiensi dan pengalaman belajar yang lebih sempurna.

Dalam menggunakan media pembelajaran, guru harus memperhatikan sejumlah prinsip tertentu agar penggunaan media tersebut mencapai hasil yang baik. Untuk itu hendaknya dapat memperhatikan hal-hal berikut:
a. Alat-alat yang dipilih harus sesuai dengan kematangan dan pengalaman siswa serta perbedaan individual dalam kelompok.
b. Alat yang dipilih harus tepat, memadai dan mudah digunakan.
c. Harus direncanakan dengan teliti dan diperiksa lebih dahulu.
d. Penggunaan media disertai kelanjutannya seperti dengan diskusi, analisis dan evaluasi.
e. Sesuai dengan batas kemampuan biaya.

Selanjutnya ada beberapa prinsip tentang penggunaan media atau alat audiovisual yaitu:
a. Tidak ada alat yang dapat dianggap paling baik.
b. Alat-alat tertentu lebih tepat dari pada yang lain berdasarkan jenis perhatian atau dalam hubungannya dengan tujuan.
c. Audiovisual atau sumber-sumber yang digunakan merupakan bagian integral dari pengajaran.
d. Perlu diadakan persiapan yang seksama oleh guru dan siswa mengenai alat audiovisual.
e. Siswa menyadari tujuan alat audiovisual dan merespons data yang diberikan.
f. Perlu diadakan kegiatan lanjutan.
g. Alat audiovisual dan sumber-sumber yang digunakan untuk menambah kemampuan komunikasi memungkinkan belajar lebih karena adanya hubungan-hubungan.

Berdasarkan beberapa hal yang telah di kemukakan bahwa jika guru mampu penggunaan media dalam pembelajaran secara tepat, maka hal tersebut dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan para siswa untuk belajar . Dengan demikian, maka dengan sendirinya keaktifan belajar para siswa dalam kegiatan pemberbelajaran akan meningkat pula.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.